Satelit Disiapkan untuk Memonitor Gas Rumah Kaca

Senin, 14 Desember 2015 08:34 WIB

Alat berbasis ruang angkasa disiapkan untuk memonitor gas rumah kaca, serta mengetahui apa yang terjadi pada karbon dioksida.

Satelit Disiapkan untuk Memonitor Gas Rumah Kaca
Rendition artis dari Orbiting Carbon Observatory, atau OCO-2, yang akan membantu melacak di mana karbon dioksida dipancarkan dan di mana ia diambil. (NASA)

 
 

Suatu alat akan membantu memantau deforestasi dan membantu menegakkan kesepakatan. Selain itu, juga memberi para ilmuwan informasi rinci asal muasal karbon dioksida dan ke mana perginya.

Deforestasi menyumbang 10 - 15 persen emisi gas rumah kaca (GRK) global. Draft perjanjian Paris mengukuhkan program pemberian imbalan keuangan atas usaha yang sukses dalam mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, atau program yang dikenal sebagai REDD.

“Program-program tersebut akan bekerja, jika kita mengetahui dua hal," kata Scott Goetz, ilmuwan senior di Woods Hole Research Center. "Kita perlu tahu berapa banyak karbon di hutan, dan kita perlu tahu di mana hutan terdegradasi atau hilang," tabah Goetz.

Tampilan 3-D

Citra satelit sudah digunakan untuk memantau dan membatasi deforestasi di tempat-tempat seperti Brazil, tetapi hanya menghasilkan foto kanopi hutan. Sebuah instrumen baru akan memetakan hutan dalam bentuk tiga dimensi.

"Instrumen ini memberitahu Anda bagaimana padatnya kanopi dan kompleksitasnya," kata Goetz. "Semakin kompleks, semakin tinggi biomassa hutan. Setengah dari biomassa adalah karbon."

Instrumen ini disebut Global Ecosystem Dynamics Investigation (GEDI) Lidar. GEDI menghasilkan citra menggunakan pantulan sinar laser, dengan cara yang sama bertindak sebagai radar refleksi gelombang radio. Penyebaran dijadwalkan pada awal 2018 di Stasiun Antariksa Internasional.

Pada konferensi iklim Paris, Goetz merilis studi barunya yang menunjukkan bahwa alatnya (GEDI) akan membuat program REDD bekerja saat ini atau secepatnya.

"Kemampuan untuk mengukur dan memantau emisi dari deforestasi bukanlah batasan untuk pelaksanaan REDD," katanya.

Menonton Pergerakan karbon

Hutan dan lautan menyerap sekitar setengah dari karbon dioksida dari pancarann aktivitas manusia. Hal tersebut diungkapkan ilmuwan atmosfer NASA, Lesley Ott.

"Itu benar-benar penting, karena jika kita tidak memiliki bantuan dari tanah dan lautan, maka kita akan melihat karbon dioksida terbentuk di atmosfer lebih cepat dan perubahan iklim berkembang lebih cepat," katanya.

Para ilmuwan tidak tahu persis di mana dan bagaimana karbon dioksida diserap ? atau berapa banyak atau mengapa penyerapan terjadi bervariasi dari tahun ke tahun ? Orbiting Carbon Observatory atau OCO-2 akan membantu mendapatkan jawabannya.

Instrumen berbasis satelit memungkinkan para ilmuwan memvisualisasi pada skala global, di mana karbon dioksida yang dipancarkan dan di mana ia diambil.

Pada tahun pertama pengumpulan data, Ott dan rekan mampu melihat tanaman di belahan bumi utara menghisap karbon dioksida dari atmosfer di awal musim semi.

"Itu terjadi selama beberapa minggu sampai satu bulan," kata Ott. "Itu benar-benar luar biasa. Dan itu benar-benar pertama kalinya kami mampu mengamati proses dengan detail."

Satelit ini tidak dirancang untuk memantau gas rumah kaca untuk penegakkan konservasi hutan seperti GEDI. Menurut Ott, OCO-2 lebih pada memberi pemandangan menarik dari apa yang bisa dilakukan satelit.

Shared: